Friday, September 15, 2017

Ilustrasi ini Mengingatkan Betapa Besar Pengorbanan Ibu demi Anak

VIRALDAILYS.COM - Ketika ditanya, siapakah orang yang paling berpengaruh, siapakah orang yang paling berjasa, siapakah orang yang paling berharga, dan siapakah orang yang paling kamu cintai lahir-batin dalam hidupmu? Harusnya sih, kita sepakat menjawab ibu. Tapi apakah kenyataannya kamu mengakui rasa sayangmu pada ibumu itu? Atau apakah kamu sadar betapa besarnya cinta ibumu pada dirimu?

Nah, berikut akan sarikan dari Brightside yang mengambil gambar dari ilustrator keren Rusia,Igor Kalashnikov, yang menjelaskan betapa besar kasih ibu pada anak-anaknya yang nggak pernah kita sadari.

  1. Ingat nggak sih ketika kamu lagi tidur, ibu selalu mengintipmu dari balik pintu? Coba deh tanyakan alasannya pada ibumu!
  2. Apa yang kamu rasakan, jelas akan dirasakan pula oleh ibumu. Air matamu, nelangsa bagi ibumu.
  3. Di mata ibumu, kamulah yang nomor satu. Nggak peduli bahwa pencapaianmu masih jauh dari teman-temanmu.
  4. Tanpa kamu sadari, kamu sering membuatnya bersedih bahkan menangis. Apalagi kalau kamu hanya selalu mengiyakan ujarannya.
  5. Kekhawatiran ibumu saat sudah larut malam tapi kamu belum juga pulang ke rumah. Apalagi kalau kamu menjawab telpon dengan ketus, sakit!
  6. Sementara ketika kamu berada di tanah rantau, jauh dari orang tua, semua yang ada di pikiran ibumu hanya kamu. Khawatirnya tingkat dewa!
  7. Ibu manapun pasti tahu bahwa dia nggak sesempurna yang kamu harapkan. Dia berharap kamu pun bisa mengerti akan hal itu.
  8. Sembilan bulan mengandung bukanlah sebuah masalah bagi ibumu. Meski dia tahu, nyawa adalah taruhannya!
  9. Dan yang perlu kamu tahu, ibu nggak akan pernah menolak untuk melakukannya lagi mengandung 9 bulan. Semua karena kasihnya pada anak dan keluarga!

Thursday, September 14, 2017

Empat Penyebab Anak Malas Belajar

VIRALDAILYS.COM - Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat. 

Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.
  1. Komunikasi tidak efektif
    Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”

    Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?

    Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”

    Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

    Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.
  2. Tak terbantahkan
    ‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.

    Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?
  3. Target tidak pas
    Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.

    Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.

    Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.
  4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik
    Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.

    Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek

    Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya.

    Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”

    Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”

    Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.
(Sarah Handayani/Ummi Online)

Wednesday, September 13, 2017

5 Cara Mudah Melatih Si Kecil Belajar Tengkurap

VIRALDAILYS.COM - Tengkurap sebenarnya bisa mulai dilatih sejak bayi berusia sebulan. Tapi Anda tetap harus bijak dalam melatih anak belajar tengkurap sedini itu. Pasalnya, meski posisi ini sangat baik untuk merangsang perkembangan motorik si kecil dan melatih kekuatan lehernya, posisi tengkurap rentan berisiko meningkatkan sindrom bayi meninggal mendadak jika dilakukan sembarangan. Lantas, kapan waktu terbaik untuk melatih anak belajar tengkurap, dan bagaimana caranya yang benar?


Bayi sudah bisa tengkurap sendiri di usia 3-5 bulan
Pada umumnya bayi bisa sudah bisa tengkurap dan membalikkan badannya sendiri pada saat usianya 3 – 5 bulan. Meski begitu, ada juga bayi yang baru bisa tengkurap dan berguling saat berusia sekitar 6 – 7 bulan, saat otot leher dan lengannya dirasa sudah cukup kuat. Itu sebabnya, Anda tidak perlu khawatir jika pada usia 3 bulan mungkin si kecil belum bisa miring ataupun tengkurap, karena selain perkembangan setiap bayi tidak lah sama, hal tersebut juga masih dalam batas normal.

Bagaimana cara orangtua melatih anak belajar tengkurap?
Kebanyakan bayi mungkin tidak suka berlama-lama dalam posisi tengkurap. Rasa bosan menjadi penyebab bayi sering rewel bila berada pada posisi tengkurap cukup lama. Itu sebabnya, apabila Anda ingin melatih anak belajar tengkurap, Anda harus pintar-pintar mencari cara untuk menarik perhatiannya sehingga ia tidak mudah bosan atau bahkan rewel.

Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melatih anak belajar tengkurap.
  1. Rutin lakukan tummy time
    Agar merangsang bayi untuk bisa belajar tengkurap, Anda bisa melakukan tummy time. Idealnya berikan waktu sekitar 5 menit untuknya berada pada posisi tersebut. Lakukan cara ini secara berulang selama si kecil dalam keadaan terjaga. Jangan lupa, letakan si kecil pada tempat yang nyaman dan bersih. Bila bayi mulai merasa tidak nyaman bahkan menangis, jangan memaksakannya. Tunggu sampai si kecil kembali rileks. Anda bisa membuat suasana hati si kecil lebih baik dengan cara mengubah posisinya menjadi telentang atau menggendongnya.
  2. Berganti posisi saat menyusui
    Saat menyusui, bayi akan secara otomatis mengikuti di mana lokasi puting susu ibu. Anda bisa tengkurapkan bayi tepat di atas perut Anda saat menyusui. Posisi ini umumnya akan membuat bayi merasa nyaman. Biarkan bayi melatih dirinya sendiri untuk menjaga keseimbangan. Selain Anda dan si kecil bisa saling menatap secara langsung, posisi ini juga secara tidak langsung akan menciptakan ikatan yang kuat antara Anda dan si kecil karena bisa saling interaksi dengan saling menatap satu sama lain.
  3. Gunakan mainan yang menarik hati
    Suasana hati si kecil memang sulit untuk diprediksi. Nah, untuk mengatasi ini Anda bisa menggunakan mainan-mainan lucu yang menarik hatinya agar tidak cepat bosan dan mampu memperbaiki suasana hatinya. Taruhlah mainan berwarna cerah dan memiliki bunyi-bunyian di depan bayi dan biarkan ia berusaha meraihnya. Anda bisa menggunakan bola kecil untuk menarik perhatian bayi agar nyaman ketika dalam posisi tengkurap. Posisi tengkurap sangat membantu bayi untuk merangsang kemampuan mengangkat badannya dan bergerak mengambil mainan yang ada di hadapannya.
  4. Gunakan ekspresi yang lucu
    Untuk membuat bayi tertarik akan satu aktivitas,  Anda memang harus memiliki banyak akal. Salah satunya Anda dengan memperagakan ekspresi wajah yang lucu dihadapannya. Meniru suara binatang merupakan ide yang tepat untuk menarik perhatian si kecil. Bahkan hampir sebagian nak-anak selalu suka dengan permainan ini. Jangan kaget kalau si kecil bisa tertawa karena ekspresi wajah yang Anda tampilkan.
  5. Jangan cepat patah semangat
    Melatih si kecil untuk belajar tengkurap memang membutuhkan strategi khusus agar ia tidak cepat bosan. Itu sebabnya, jangan patah semangat untuk terus mencoba dan mencari ide menarik agar bayi nyaman saat Anda posisikan dalam keadaan tengkurap, ya! Ingat, kesabaran dan kegigihan Anda pasti akan membuahkan hasil yang manis kok!  Sampai nanti pada saatnya si kecil akan memberikan Anda sebuah kejutan bisa tengkurap dan berguling sendiri untuk pertama kalinya.

Mengenal Katarak Kongenital Pada Bayi dan Penyebabnya

VIRALDAILYS.COM - Baru-baru ini selebriti Indonesia Asri Welas membagikan kisah tentang bayinya yang divonis menderita katarak di usia yang masih sangat muda, 5 bulan. Bayi yang akrab disapa Ibran pun harus menjalani operasi dan menggunakan kacamata plus agar bisa melihat.

Kisah yang dialami bayi Asri Welas ini seakan mengingatkan kita bahwa katarak tidak hanya dialami oleh orang-orang yang sudah lanjut usia. Bayi yang baru lahir pun bisa menderita katarak.

Titik putih atau noda keruh diarea pupil mata menjadi tanda utama seorang bayi mengalami katarak kongenital. Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa mata yang terjadi sejak lahir. Katarak ini lah yang membuat penglihatan anak menjadi tidak peka. Dalam beberapa kasus bahkan bisa berdampak kebutaan pada bayi.


Apa itu katarak kongenital?
Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa mata yang terjadi sejak lahir. Lensa mata ini berfungsi untuk memfokuskan cahaya yang masuk ke mata menuju retina, sehingga mata bisa menangkap gambar dengan jelas. Namun, jika terjadi katarak, sinar cahaya yang masuk ke mata menjadi tersebar ketika melewati lensa yang keruh, sehingga gambar yang diterima mata menjadi kabur dan terdistorsi.
Jika anak Anda menderita katarak kongenital, biasanya ia akan menunjukkan tanda-tanda, seperti terdapat noda keabu-abuan yang terlihat pada pupil mata bayi Anda atau bisa saja tidak, penglihatan bayi terlihat tidak peka dengan lingkungan sekitarnya (misalnya, bayi tidak menoleh ketika ada orang di sampingnya), atau pergerakan mata bayi yang tidak biasa.

Terdapat beberapa jenis katarak kongenital, yaitu :

  1. Katarak polar anterior terletak di bagian depan lensa mata dan umumnya berhubungan dengan keturunan. Jenis katarak ini seringnya dianggap tidak perlu dilakukan operasi.
  2. Katarak polar posterior muncul di bagian belakang lensa mata.
  3. Katarak nuklear terletak di bagian tengah lensa mata dan ini merupakan jenis yang paling sering muncul.
  4. Cerulean cataracts biasanya ditemukan pada kedua mata bayi. Biasanya jenis katarak kongenital ini tidak menyebabkan masalah penglihatan. Cerulean cataracts biasanya dihubungkan dengan keturunan.
Apa yang menyebabkan katarak kongenital?
Katarak yang biasanya terjadi pada orang tua biasanya berhubungan dengan proses penuaan. Sedangkan, katarak kongenital yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena keturunan, infeksi, masalah metabolik, diabetes, trauma, inflamasi, atau reaksi obat.

Contoh obat yang dapat  menyebabkan katarak pada bayi baru lahir adalah antibiotik tetrasiklin yang digunakan untuk mengobati infeksi pada wanita hamil. Jadi, bagi ibu hamil, jangan sembarangan memakai obat-obatan, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu pada dokter Anda.

Katarak kongenital ini dapat terjadi semenjak kehamilan, yaitu di saat ibu hamil mempunyai penyakit infeksi, seperti campak atau rubella (yang merupakan penyebab paling umum), rubeola, cacar air, cytomegalovirus, herpes simplex, herpes zoster, poliomyelitis, influenza, virus Epstein-Barr, sifilis, dan toksoplasmosis.

Pada katarak kongenital yang disebabkan oleh keturunan, kelainan terjadi saat pembentukan protein penting untuk mempertahankan transparansi dari lensa mata alami, sehingga akhirnya mengakibatkan adanya noda keruh pada lensa mata.

Bagaimana cara mengobati penyakit ini, haruskah operasi? 
Jika dibiarkan, katarak kongenital dapat menghambat penglihatan anak dan bahkan juga bisa menyebabkan kebutaan pada anak. Untuk itu, diperlukan operasi katarak sesegera mungkin untuk menghilangkan lensa alami anak Anda. Operasi katarak pada bayi ini harus dilakukan sedini mungkin untuk menjamin penglihatan bayi cukup bisa untuk berkembang dengan normal. Beberapa ahli berpendapat bahwa waktu untuk melakukan operasi katarak kongenital adalah antara usia 6 minggu sampai 3 bulan.

Setelah operasi pengangkatan lensa mata anak yang terkena katarak kongenital, lensa mata anak kemudian bisa digantikan dengan lensa buatan, atau anak juga bisa memakai lensa kontak atau kacamata setelah operasi. Tanpa beberapa tindakan koreksi tersebut setelah operasi, penglihatan anak Anda mungkin akan berkurang dan perkembangan penglihatan normal bayi akan terhambat.

Pendapat juga bervariasi mengenai apakah lensa buatan harus dipasang pada mata anak Anda setelah operasi katarak karena dikhawatirkan ini akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan mata normal. Dalam beberapa kasus, lensa kontak dipasang pada permukaan mata (kornea) yang digunakan untuk membantu memulihkan penglihatan anak setelah lensa mata anak dihilangkan.

Setelah dilakukan tindakan operasi, mungkin sulit untuk memprediksi apakah penglihatan anak lebih baik, meskipun kemungkinan akan selalu ada pengurangan tingkat penglihatan pada mata anak yang terkena katarak kongenital.

Selain itu, tindakan operasi ini bukan berarti tanpa risiko. Salah-salah, operasi katarak ini dapat menyebabkan glaukoma, yang terjadi ketika tekanan pada mata terlalu tinggi. Glaukoma dapat menyebabkan kerusakan permanen struktur dalam mata ketika pengobatan tidak dilakukan dengan baik.

Namun, Anda jangan khawatir, tidak semua katarak kongenital harus dioperasi. Katarak yang hanya menutupi bagian tepi lensa mata mungkin tidak perlu dilakukan operasi, lensa mata tidak perlu dihilangkan karena penglihatan masih dapat berfungsi tanpa hambatan. Katarak yang sangat kecil juga mungkin tidak perlu dilakukan operasi. Sebaiknya diskusikan lebih lanjut dengan dokter mata anak Anda.
XYXYXY